Indonesia Berduka, Sedang Aku Bahagia
Kepada Pak Habibie dan Bu Ainun
_________________
Dik, magrib ini Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Semua teknologi-teknologi terkini, Instagram, Twitter, Facebook. Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Tadi selepas magrib berkumandang, aku sholat dalam hanya ucap. Tanganku diinfus, mulutku dipasangi selang. Tak bisa aku, Dik, mengangkat tangan lama-lama.
Selepas sholat, seperti biasa, kudoakan engkau dengan penuh cinta, jeritan tentang rindu-dendam dan kenangan yang aku tahan 9 tahun lamanya.
"Duhai, Tuhan. Inikah yang dirasakan Ainun, kembang elokku 9 tahun lalu? Ketika selang memasuki tubuhnya di mana-mana," itu yang selalu terngiang dalam benakku ketika aku merasa sakit di atas kasur ini. Sakit, Dik, ketika mengingat engkau, mengingat kesalahan terbesarku, tak bisa menjagamu.
"Assalamualaikum," kata sosok yang tak pernah aku dengar, aku temui.
"Wa'alaikumussalam," jawabku dalam sakit yang selalu merindu.
"Bu Ainun menunggu," katanya yang membuat air mataku menetes.
Dik, sembilan tahun lamanya aku tersiksa dengan merindu kepada engkau, setiap jalannya di sembilan tahun ini adalah tentang kenangan engkau terus merasuk berlalu dalam DNA-ku.
Di sembilan tahun yang lalu, ketika kepergianmu, pemilik kaki ini hampir gila, meraung menangis memanggil namamu, terus memanggil namamu. Engkau tahu, aku hampir gila.
Indonesia menyuruhku menulis, berkarya, menulis kisah kita. Hingga.. Kau sudah menonton film kita, Dik? Indonesia mengalihkan perhatianku. Mereka mencoba membantu.
Tetapi, ketika aku pulang, aku di dalam kamar, seseorang di sampingku pergi, telah pergi. Aku menangis lagi menjadi-jadi. Aku tonton lagi film itu, ketika di sana engkau memarahiku, dan mengunci pintu kamar, "Ayo, Dik, marahi aku lagi, sekarang aku sedang nakal, lho, tak mau tidur, marahi aku lagi, Dik. Aku akan menurut,".
Setiap sakit yang tiba, aku selalu putus asa, "Biarkan sakit menggonggong sejadi-jadinya dalam tubuh ini, aku akan bertemu Ainun," hah! Bunuh diri aku, Dik.
Dik, Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Ketika pemikiran itu datang, aku lihat fotomu, seolah-olah berkata, "Jangan temui aku, sedang engkau putus asa kepada Tuhan. Bukankah Rahmat Tuhan lebih luas, paling luas, abadi luasnya dibanding teori-teori fisika cintamu?,"
Tegar aku, Dik, seketika.
Aku jalani sembilan tahun ini dengan tegar, melakukan kegiatan-kegiatan, sampai lupa akan asa yang putus itu.
Hingga, magrib ini, kata yang aku dambakan sembilan tahun lamanya aku dengar, "Ainun menunggu,".
Indah, Dik. Indah sekali.
"Bismillah, Allah menyuruhku melaksanakannya dengan lembut," kata Malaikat memegang ubun-ubunku.
Lembut dari mana, Dik, sakit, Demi Allah sakit.
Namun semua itu sirna oleh semangat membaraku untuk bertemu engkau.
Dik, Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Katanya, besok aku dimakamkan di sebelahmu. Aku hampir-hampir lupa, bahwa aku masih di dunia. Asa ku hanya tinggal tak sabar bertemu dua mata itu, mata yang menemaniku di Jerman, menemaniku ketika Indonesia terpuruk, dan aku terpojok, mata itu, yang besok aku bersemayam di sebelahnya.
Dik, Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Esok, aku tak perlu lagi mencari laut, taman, samudera. Karena aku telah menjadi mereka.
Esok, aku tak perlu lagi merindu, dendam pada waktu, tertampar oleh kenangan. Karena esok, aku adalah Ainun, Ainun dalam Yang Abadi.
Oleh Euros Cum
Selamat Jalan Bapak Teknologi Bangsa 🙏🙏🙏
Doa kami dari generasi muda.. 🙏🙏
11 September 2019
_________________
Dik, magrib ini Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Semua teknologi-teknologi terkini, Instagram, Twitter, Facebook. Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Tadi selepas magrib berkumandang, aku sholat dalam hanya ucap. Tanganku diinfus, mulutku dipasangi selang. Tak bisa aku, Dik, mengangkat tangan lama-lama.
Selepas sholat, seperti biasa, kudoakan engkau dengan penuh cinta, jeritan tentang rindu-dendam dan kenangan yang aku tahan 9 tahun lamanya.
"Duhai, Tuhan. Inikah yang dirasakan Ainun, kembang elokku 9 tahun lalu? Ketika selang memasuki tubuhnya di mana-mana," itu yang selalu terngiang dalam benakku ketika aku merasa sakit di atas kasur ini. Sakit, Dik, ketika mengingat engkau, mengingat kesalahan terbesarku, tak bisa menjagamu.
"Assalamualaikum," kata sosok yang tak pernah aku dengar, aku temui.
"Wa'alaikumussalam," jawabku dalam sakit yang selalu merindu.
"Bu Ainun menunggu," katanya yang membuat air mataku menetes.
Dik, sembilan tahun lamanya aku tersiksa dengan merindu kepada engkau, setiap jalannya di sembilan tahun ini adalah tentang kenangan engkau terus merasuk berlalu dalam DNA-ku.
Di sembilan tahun yang lalu, ketika kepergianmu, pemilik kaki ini hampir gila, meraung menangis memanggil namamu, terus memanggil namamu. Engkau tahu, aku hampir gila.
Indonesia menyuruhku menulis, berkarya, menulis kisah kita. Hingga.. Kau sudah menonton film kita, Dik? Indonesia mengalihkan perhatianku. Mereka mencoba membantu.
Tetapi, ketika aku pulang, aku di dalam kamar, seseorang di sampingku pergi, telah pergi. Aku menangis lagi menjadi-jadi. Aku tonton lagi film itu, ketika di sana engkau memarahiku, dan mengunci pintu kamar, "Ayo, Dik, marahi aku lagi, sekarang aku sedang nakal, lho, tak mau tidur, marahi aku lagi, Dik. Aku akan menurut,".
Setiap sakit yang tiba, aku selalu putus asa, "Biarkan sakit menggonggong sejadi-jadinya dalam tubuh ini, aku akan bertemu Ainun," hah! Bunuh diri aku, Dik.
Dik, Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Ketika pemikiran itu datang, aku lihat fotomu, seolah-olah berkata, "Jangan temui aku, sedang engkau putus asa kepada Tuhan. Bukankah Rahmat Tuhan lebih luas, paling luas, abadi luasnya dibanding teori-teori fisika cintamu?,"
Tegar aku, Dik, seketika.
Aku jalani sembilan tahun ini dengan tegar, melakukan kegiatan-kegiatan, sampai lupa akan asa yang putus itu.
Hingga, magrib ini, kata yang aku dambakan sembilan tahun lamanya aku dengar, "Ainun menunggu,".
Indah, Dik. Indah sekali.
"Bismillah, Allah menyuruhku melaksanakannya dengan lembut," kata Malaikat memegang ubun-ubunku.
Lembut dari mana, Dik, sakit, Demi Allah sakit.
Namun semua itu sirna oleh semangat membaraku untuk bertemu engkau.
Dik, Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Katanya, besok aku dimakamkan di sebelahmu. Aku hampir-hampir lupa, bahwa aku masih di dunia. Asa ku hanya tinggal tak sabar bertemu dua mata itu, mata yang menemaniku di Jerman, menemaniku ketika Indonesia terpuruk, dan aku terpojok, mata itu, yang besok aku bersemayam di sebelahnya.
Dik, Indonesia berduka, sedang aku bahagia.
Esok, aku tak perlu lagi mencari laut, taman, samudera. Karena aku telah menjadi mereka.
Esok, aku tak perlu lagi merindu, dendam pada waktu, tertampar oleh kenangan. Karena esok, aku adalah Ainun, Ainun dalam Yang Abadi.
Oleh Euros Cum
Selamat Jalan Bapak Teknologi Bangsa 🙏🙏🙏
Doa kami dari generasi muda.. 🙏🙏
11 September 2019
Comments