Karawang, 23 Desember

Dalam perjalanan ini
Aku sendiri

Aku rasa pernah merasa hal serupa
Dengan darah yang sama
Namun, sorot mata yang berbeda

Aku lihat samping kiri jendala
Di belakang pupilku
Warna rasa khayalmu

Bibirku menyungging lucu
Konyolnya aku
Menolak semua haru
Karena takut kau tiba-tiba datang
.. menjemputku

Aku tak sabar
Kapan yah masanya
Aku sembuh. Olehmu
Atau diriku sendiri

Kau tahu?
Samping kananku ada seorang kakek
Ia sangat eksentrik.

Tadi saja seorang pengamen yang bersuara merdu
Ia sapa dengan gayanya
Dia tidak tepat duduk disampingku
Seberang tepatnya...

Seorang nenek yang duduk bersamanya saja, ia sapa
Aku menunggu dia menyapaku, tapi sampai kata ini
kau baca, ia belum menyapaku

Aku selalu suka melihat seorang kakek
Siapapun itu
Ada jiwa sangat cinta pada cucu perempuannya, apalagi

Ku koreh kenangan
Sosok teladan dalam hidupku
Cinta pertamaku yang terbalaskan dalam suri
Mencintai tanpa henti, sampa ajal telah bertepi

Enam tahun lalu, shubuh itu.
Aku cium tangan kakekku, pulang
Dia bangun, tersenyum, lalu pamit

Aduduh, dalam perjalanan ini berkaca-kaca

Teringat, aku sibuk mendoakanmu
Lupa dengan cinta pertamaku, suri

Begitu hebat, kan? Diamnya kamu itu
Membuatku tersesat, tanpa kau berkehendak

Begitu derita yang kunikmati
Telah beri apa kamu yang tak pernah menyapa?
Sehingga aku menyatakan ingin sembuh
Dan tak kunjung sembuh lagi...




11.51
Euros Cum

Comments

Popular Posts