Apakah merasa?

Di menusuknya malam, di teriknya siang, di bersinarnya pagi, dan senjanya sore.

Di setiap apa pun itu rasanya, cuacanya. Aku bertanya dalam diri. Apakah pernah orang lain merasa bahwa dirinya hanya parasit bagi orang lain? Benalu bagi setiap kondisi yang ia jalani?

Apakah pernah orang lain merasa bahwa tak ada satu pun kebaikan dalam dirinya, seolah-olah setengah dari keburukan di dunia ada dalam darah dagingnya.

Jalanku pun hampa. Aku ingin keliling dunia.

Untuk mencari terus mencari. Dalam semak, dalam salju putih, dalam bau khas hujan, dalam gugur yang tak pernah kurasa, aku akan tetap hampa.

Apakah pernah orang lain merasa? Kadang aku rasa adalah raja, aku rasa   adalah jelata. Kadang pula aku rasa adalah angka yang berderet, kadang pula aku rasa huruf yang membuai. Kadang juga aku rasa adalah segala, kadang aku rasa bukan apa-apa. Kadang sering aku rasa bisa, kadang aku rasa hanya asa.

Buih-buih di lautan.

Mereka menari, aku tak mau. Mereka yang lain bercengkrama, aku tak mampu.

Aku rasa dunia ini adalah fenomena gunung es, setiap keburukannya akulah yang berada di atas permukaan air, setiap halnya. Aku bilang aku sedang mencair, sudah mencair, namun aku dikenang, "Dia gunung es yang menghalangi pemandangan itu, yang menenggelakan ribuan kapal, dia yang tertutup kabut, kini terbuka dengan takut,".

Apakah pernah orang lain merasa?
Bahwa dosa lampau bukan miliknya, menapak dalam setiap langkah harinya. Bahwa setiap yang ia jalani kemarin, kini, esok, dan nanti hanya akan menjadi penyesalan dan beban.

Apakah pernah orang lain merasa? Bahwa mereka tak berhak dicinta, namun tak mau inginnya basa. Setiap yang akan dengannya kelak, hanya akan menjadi tempat bersemayamnya benalu. Walau dalam himmahnya benalu itu akan mengerahkan setiap sel dan atom yang ada pada dirinya untuk yang akan dengannya kelak.

Apakah pernah orang lain merasa?
Bahwa hidup tak pernah ramah padanya. Di kehidupannya ia berbusa kata-kata menggugah jiwa untuk siapa saja yang datang padanya karena putus asa. Setelah yang datang bangkit, tersenyum dan mulai menjalani hari. Aku yang menasihati terpenjara teori-teori.

Hei! Tanyalah aku! Aku punya segudang teori. Punya bergedung-gedung jawaban.
Punya segala yang ingin kau pinta untuk membantumu. Datanglah! Kita berteman, kau takkan menyesal! Aku janji!

Biarku curahkan banyak punya yang kumiliki, melebihi dari kepunyaanku yang tadi.

Aku punya angkasa kehampaan, setiap langkahnya selalu merasa dalam ranah berbeda, tak sama. Aku lihat mata kedua April dan September.

Apakah mereka bedua merasa?
Apakah kamu merasa?

Sudikah kamu membaca? Sepucuk doa fatihah untukku?

Kamu merasa?





Oleh Euros Cum
26 November 2018
21.00

Comments

Popular Posts