Wook Ad
Chapter 2
dari Hel Ki
-----------------
Tapak kaki itu terus melangkah, badan yang dibaluti kain wol yang kasar itu terus berjuang melewati padang tandus. Tongkat kayu yang ia pegang kokoh, begitu juga dengan tatapan matanya.
"Ad, kau hendak kemana, anakku?" ucapan Guru Fen itu terus terngiang di sanubarinya.
Kala itu, kala ia memutuskan untuk pergi dari kerajaan, Wook Ad bertanya untuk terakhir kalinya kepada Guru Fen, "Bagaimana menemukan jalan itu?"
"Hatimu harus bersih, tinggalkan zona lawan jenis," jawab Guru Fen.
"Aku tidak akan menikah kalau begitu!" jawab Wook dengan spontan.
"Tidak, Ad. Kau harus menikah," jawab Guru Fen dengan sangat sabar.
"Mengapa? Guru tidak menikah, kan? Guru pun menemukan jalan itu, jalan menuju Tuhan!" ucap Wook.
"Tidak, Ad. Keputusanmu tidak menikah bukan karena keterbukaan pandanganmu akan kehidupan, begitu pula akan Tuhan. Keputusan itu karena hatimu patah atas kematian kekasihmu yang belum sempat saling berbagi kasih, keputusan itu pula karena kau marah padaku, karena aku tidak bisa mengajak Raja kepada jalan kita, aku hanya boneka politik berbaju agama.
Ad, dengarlah! Telah berbagai cara telah aku lakukan untuk mengajak raja. Aku sangat berhati-hati dalam hal itu. Karena, jika tidak, maka kita tidak akan bisa menyebarkan agama lagi. Ia akan mengeksekusi kita, jika kita membocorkan kepada rakyat bahwa Sang Raja tidak beriman. Lalu siapakah yang akan melanjutkan ajaran Tuhan, jika kita sebagai rantai ajaran murni kepada Sang Nabi tak ada?" ucap Guru Fen sambil memeluk murid kesayangannya.
Tubuh Wook pun bergetar, kembali memeluk Sang Guru.
"Nak, aku sudah tua. Sudah 90 tahun lamanya aku di kerajaan ini, mengajar dari generasi ke generasi. Tak ada yang bisa membeli hatiku, semua yang telah kuajari berlalu begitu saja, mendapat tempat di masyarakat, lalu tak kembali.
Sembilan puluh tahun lamanya aku menunggu, mencari siapa yang akan meneruskan lisanku. Aku merasa bukan aku yang bisa mengajak raja, tetapi generasi selanjutku, yaitu kau, Ad.
Tetapi, duh, di awal perjuanganmu, kau sudah diberi ujian oleh-Nya. Pergilah, nak. Aku yakin kau akan kembali lagi sembari sudah menemukan jalan-Nya, " ucap Guru Fen.
Ucapan terakhir Guru Fen itu selalu menemani langkah Wook yang entah akan berlabuh di mana, yang pasti langkah itu menuju suatu tempat. Tempat tak ber-raja, tempat tak berpemerintah, dan tak pernah disebutkan.
Dalam benaknya,"Aku akan meninggalkan zona itu!," ucapnya, sedangkan Hel Ki masih selalu terlewat di matanya.
Perjalanan Wook menembus cakrawala sampai berbulan lamanya, tak ada tempat yang benar-benar ia yakini untuk bermukim. Setiap menemukan sebuah pemukiman, ia hanya ikut menginap di salah satu rumah, esoknya pergi mengikuti angin hendak kemana membawanya.
Sampailah pada sebuah pemukiman nun jauh dari kerjaan, nun jauh dari keramaian. Tempat di tengah padang pasir, sebuah aose yang indah.
"Yang dijanjikan Guru Fen telah datang, yang dijanjikan Guru Fen telah datang," teriak seorang pemuda ketika Wook baru memasuki perkampungan itu.
Saat itu juga seluruh warga yang kurang dari lima puluh langsung menyambut Wook.
"Apakah paman murid dari Guru Fen? Paman mau mengajari kita menulis dan ilmu sikap, kan? Ayo paman, ayo," ucap salah satu anak berusia tujuh tahunan, diikuti teman-temannya.
"Hah? Jangan memanggilku paman, aku masih muda," ucap Wook dengan senyum hangat.
"Heh, Paman Wook lelah dari perjalanan, besok saja belajarnya," ucap ibu yang berbadan tambun sembari menarik tangan Wook menuju rumahnya.
"Bagaimana ia tahu namaku?" benak Wook bertanya.
Wook disambut dengan berbagai hidangan khas pemukiman itu, "bagaimana kalian tahu namaku?" tanya Ad kepada Tetua Perkampungan .
"Sudah kau tidur, istirahatkan badanmu, esok akan kami ceritakan," ucap ibu-ubu berbadan tambun tadi yang ternyata istri dari Tetua Perkampungan.
***
Sebelum fajar menyampaikan salamnya pada Bumi , Wook sudah bangun. Tanpa disuruh, Wook yang melakukan pekerjaan rumah Tetua.
Saat fajar memberikan salam sinar hangatnya pada Bumi, wook pun duduk di teras rumah Tetua, dan matanya memandang pemandangan oase indah di di depannya.
Para penduduk kampung mulai membukakan jendela-jendela rumahnya.
Saat mereka melihat Wook, sebagian dari mereka ada yang melambaikan tangan, ada pula yang langsung menghampirinya dengan membawa sesuatu yang mereka punya.
"Aku tahu apa yang aku berikan ini tidak bagus, tapi hanya baju ini yang menurut paling terbaik yang aku punya," ucap seorang bapak-bapak kepada Wook.
Wook pun menerimanya dan langsung memakainya, "Ini sangat nyaman, Pak, sekaligus baju paling indah yang aku pernah aku pakai. Terima kasih pak, semoga Bapak sehat selalu,".
Tetua pun menceritakan bahwa delapan belas tahun lalu Guru Fen datang ke perkampungan ini, perkampungan yang bernama "Rayva".
Di saat Guru Fen datang ia menaiki kuda sembari menggendong bayi lelaki. Penduduk menyambut Guru Fen dengan hangat, karena para penduduk tahu ia adalah murid langsung Sang Nabi yang meninggal 100 tahun yang lalu.
Tetapi, Guru Fen hanya tinggal selama dua malam saja, dan langsung berpamit. Penduduk Rayva mencegahnya, karena mereka ingin menimba ilmu dari Guru Fen, "Maafkan aku, tetapi aku harus segera pergi dari tempat ini. Aku janji bayi ini suatu saat nanti akan datang kesini, untuk meneruskan lisanku. Aku doakan semoga umur kalian panjang, sehingga bisa menimba ilmu," kala Guru Fen langsung memacu kudanya, menebus padang pasir di usia senjanya.
"Ditambah seminggu yang lalu, Guru Fen kesini dan memberi tahu bahwa Sang Bayi itu akan kesini, Guru Fen punn mengatakan bayi delapan belas tahun itu bernama Wook Ad," ucap Tetua.
"Seminggu yang lalu? Tapi perjalananku kesini berbulan-bulan lamanya," tanya Wook dengan heran.
"Kau belum mengenal Guru Fen ternyata," ucap Tetua dengan ketawa.
Lima tahun lamanya Wook tinggal di Rayva, Wook Ad pun dibangunkan rumah sederhana oleh para penduduk dekat dengan oase.
Kesehariannya ia hanya mengajar, membantu warga mengembala, atau memancing.
Ia bahagia hidup sederhana bersama penduduk Rayva, namun tetap, hatinya resah. Ia tak pernah benar-benar melupakan Hel Ki, ia hanya pergi jauh dari tempat Hel Ki.
Sampai suatu malam, ia duduk di rumahnya yang berisikan hanya satu kamar saja, matanya menunduk, mendalami jiwanya, "Tuhan, sejauh mana aku pergi, aku tidak benar-benar menemukan jalan-Mu, yang ada hanya bayang Hel Ki dalam lintas mataku.
Aku sadar, bahwa semua ini salah, hidupku sejatinya bukan untuk selalu menyesali Hel Ki. Aku gegabah berkata tidak akan menikah, itu bukan keterbukaan pikiranku, melainkan keputusasaan akan karunia-Mu. Tuhan, aku ingin sembuh, sembuhkanlah aku.
Sejauh mana aku pergi, Hel Ki akan selalu ada dalam bentuk imaji yang tak pernah terjadi, karena itu dari diriku sendiri, yang tak mau sembuh," ucap hati Wook, sembari menitikkan air mata.
"Tuhan, ampuni aku. Bodohnya aku yang mencintai makhluk-Mu tanpa pernah memandang bahwa semua itu darimu, bahwa kau menciptakan cinta antara makhluk-Mu itu sebagai media belajar untuk mencintai-Mu.
Tuhan, maafkan Hamba-Mu ini," ucap Wook terlelap dalam penghambaannya.
"Hendak kemana lagi, Ad, kau mencari Tuhan? Tidak akan kau temukan! Jikalau Tuhan bertempat, maka semesta takkan sanggup menampung zat-Nya. Tetapi, zat-Nya bisa bertempat pada satu hati hamba-Nya," ucap Wook pada dirinya sendiri.
Esok harinya Tetua mengetuk pintu rumah Wook, dan memberikan sebuah surat dari Guru Fen yang katanya semalam mampir, dan bergegas langsung pergi lagi.
"Wook, sepertinya kau telah membuka pintu menuju jalan-Nya," isi surat dari Guru Fen.
*****
Oleh Euros Cum
Coming Soon Chapter 3 dengan judul yang sama, "Wook Ad".
Kritik dan Saran harap ditulis dikomentar ππ
Semoga menikmati ππ
Comments