Ursula, I love You!


Aku mahasiswa Fakultas Sastra. Aku sering diminta jadi boneka praktik oleh Ursula. Dia mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi. Dia Katolik blasteran Belanda-Cina.

Gigiku selalu saja dijadikan bahan praktiknya. Aku malah senang. Bagaimana tidak, Ursula cantik dan baik. Ia kerap mentraktirku sebelum praktik mengutak-atik gigiku. Setelah praktik, dia memberiku stiker-stiker yg berisi ayat Injil Lucas, Matius, Yohanes, atau apa satu lagi aku lupa. Kutempelkan semua di pintu kamar. Bukan apa-apa, bagiku, melihat stiker  stiker itu sama saja dengan mengingat pipi kempot dan mata sipit Ursula.

Karena sering bersama, kami makin dekat. Sangat dekat. Sedekat pertanyaan rutin Ursula padaku, "Kenapa kamu tidak pernah bilang 'I love you' sama aku?"
Jawabanku selalu sama, "Sama seperti kamu yang ngaku orang Islam, tapi gak pernah ngucapin syahadat."

"Aku orang Islam. Aku belajar shalat, berdoa" sergahnya.

"No, kamu tetap Katolik sampai kamu resmi mengucapkan dua kalimah syahadat. Tak cukup hati untuk jadi orang Islam, harus mengucapkan syahadat dengan terang."
Ketika waktunya tepat, Ursula pun mengucapkan syahadat di Masjid Agung Raya. Aku saksinya. Sah dia menjadi mualaf.

Bagaimana denganku?
Aku terus mencintainya dengan hati. Padahal dia sudah masuk Islam secara lisan tapi aku belum bisa mengucapkan I love you dengan terang.

Suatu saat dia mengenalkan seorang pria kepadaku.
Laki-laki itu menjabat tanganku erat. Kurasakan tangan dinginnya. Dengan mata sayunya, lelaki itu berkata :  "Ursula sering berceritera tentang kamu. Dia bilang kamu sahabat terbaiknya."

Setelah bilang itu, dia menoleh pada Ursula. Mesra ia katakan, "I love you."

Ursula menoleh sesaat padaku seolah berharap aku yg mengatakan itu. Kemudian, ia memaksakan lesung pipinya tersenyum pada prianya.

Tak lama kemudian. Mereka meninggalkanku, entah ke mana.
Aku pun membanting pintu dengan segala sesal di hati. Entah untuk keberapa kali, aku tak kuasa mengalahkan lidahku sendiri untuk mengatakan sesuatu yang ia tunggu sedari dulu.
Itu pula yg membuatku tak pernah melihat lagi Ursula hingga kini.

Dulu, hari-hariku sangatlah membosankan. Setiap istirahat, rutinitasku hanyalah merenung sambil memutar lagu yang sama di pojokan kantin. Suara sendu vokalis bercampur suara bising keramaian setia jadi kudapan pagiku. Aku hanyut, larut dalam sepi di tengah hiruk pikuk keramaian.

 Hariku mulai beda saat aku  memiliki satu kebiasaan baru. Ursula!. Pagi itu, aku dengan setelan hoodie-ku curi-curi pandang paras ayu seorang wanita sipit dari jauh. Mungkin dia tidak menyadari sama sekali keberadaanku, tapi aku sudah puas hanya dengan melihat senyumnya. Itu sudah lebih dari cukup.

Sejak saat itu aku sering berpapasan dengannya. Tanpa sengaja kulihat nametag-nya, tertulis disitu "Ursula". Ya! Ursula.  Aku sangat malu untuk menyapanya atau bahkan sekilas menatap ketika kami berpapasan. Selalu saja kubuang mukaku untuk mengalihkan pandanganku dari mata sipitnya.

Sampai suatu hari aku dipaksa dosen membacakan puisi di acara kampus yang penuh sesak oleh mahasiswa sefakultas. Keringat dingin menjalar di sekujur tubuhku. Terpatung tubuhku,  bahkan aku belum menyiapkan sebait pun puisi. Untungnya, dalam buku saku jaketku, aku punya cadangan puisi saat terakhir kali melihat Ursula.

Mataku melihat semua yang  bermuka datar, mungkin kesal, dan itu buatku tambah malu. Namun, ditengah situasi hati yang kacau, kulihat satu-satunya orang  melihatku dengan antusias. Itu Ursula!

Kilatan cahaya di matanya memaksaku membuka hoodieku. Dengan lantang, fasih, dan penuh perasaan kubacakan puisiku tanpa melihat buku. Seolah-olah, hanya aku dan Ursula yang terduduk manis di ruangan besar itu.

"Puisi adalah siratan hati

Melihatmu hatiku bersua

Tanganku menyuratkan

Namun sua hati ini tak bisa kulisankan," itulah bait puisi terakhir yang kubacakan.

Semua yang menonton bertepuk tangan dan aku langsung berlari turun dari panggung guna mencari tempat yang agak sepi. Memang aku sungguh introvert.

Tanpa diduga saat aku baru mau duduk, Ursula mendatangiku.
"Hi! Namaku Ursula, boleh kenalan? Puisimu sangat bagus!" sapa Ursula dengan senyuman mata sipit khasnya. Aku sempat tersentak untuk sepersekian detik ditodong oleh senyuman semanis ini dari dekat.

"A.. al..vii.. , panggil saja aku Alvi," jawabku seperti anak tk belajar mengeja.

"Boleh aku pinta puisimu? Untuk ditempelkan di kamarku, aku sangat suka puisimu," pinta Ursula masih dengan mata yang sangat indah. Entah aku salah lihat atau bukan, matanya terlihat berkaca-kaca.

"Boleh," jawabku mencoba tidak kaku.

Ursula lalu menulis puisiku.

Setelah itu dia berterima kasih kepadaku, meminta nomerku, dan pergi dengan melambaikan tangan.

Semenjak itu, kami sering bertemu, tentu saja sekarang kami saling menyapa. Tanpa terasa kami mulai menjalin pertemanan. Aku yang introvert mulai bisa bergaul dengannya yang ekstrovert. Kami sering ke bioskop, saling berbagi ilmu masing-masing. Sesekali aku mulai menjadi boneka percobaanya. Aku sangat menikmati. Walau samar-samar dan semoga saja benar, kurasakan rasa nyaman itu juga pada hati Ursula.

Ursula sangat aktif, dia bisa membawaku untuk tertawa lepas, menikmati hidup, dan apa saja yang mengasyikan. Walaupun dia bukan seorang muslim, tapi ia sangat suka mempelajari islam, apalagi tokoh-tokoh islam.

Terkadang, ia bertanya kepadaku tentang islam, ya aku jawab seadanya, karena aku tidak pernah mendalami secara khusus, hanya turun-temurun dari kakekku.

Aku sangat mencintai Ursula.

Ursula mulai bercerita tentang kisah cinta lamanya. Dia pernah mempunyai kekasih bernama Hadi seorang mahasiswa yang sama fakultas dan kejuruannya bersama Ursula. Hadi seorang muslim yang mungkin lebih mengerti agama ketimbangku. Hadilah yang membawa Ursula menyukai islam. Namun, di saat Ursula mulai menyukai islam, Hadi mati tabrakan ketika pulang dari kampus.

Belum bisa kubayangkan bagaimana remuknya hati Ursula saat itu. Namun, sungguh! Ia begitu hebat, ia bisa merelakan kepergian Hadi, dan dengan polosnya ia berkata, "Aku takkan menangis karena mengingat Hadi, karena aku tak ingin menyiksa Hadi. Bila tiba-tiba aku ingat dia, aku selalu tersenyum, lalu kemudian mendoakannya,"

Suatu hari saat aku sedang di kantin, Ursula mendatangiku dengan wajah yang sangat bahagia.

"Alvi! Aku memutuskan untuk masuk islam! Aku sudah lama ingin masuk islam, namun orang tuaku tidak mengizinkan. Tapi kau tahu? Dengan debat yang panjang orang tuaku mengizinkanku masuk islam dengan syarat aku harus merahasiakannya kepada keluarga besarku! Wah! Itu hebat, bukan?" katanya dengan antusias. Aku sudah terbiasa sekaligus menikmati sikapnya.

"Lalu?" tanyaku.

"Aku sudah mengurus semua perpindahan agama ini dan minggu depan aku akan mengucapkan dua kalimat syahadat yang selalu kau tagih padaku! Kau mau ya, menjadi saksinya? Mau ya?" melas Ursula.

Dengan senyum simpul, kutepiskan pandanganku dari pandangannya : "Tidak!"

"Yah, kau harus mau. Inikan demi kebaikan, masa kau tidak mau bantu!" Ursula mulai cemberut dan aku suka itu.

"Tidak!" jawabku yang sebenarnya hanya ingin menggodanya.

"Allah, Alvi mengahalangiku untuk masuk agama-Mu, aku tidak punya saksi selain Alvi karena kan aku harus merahasiakannya, tolong beri balasan kepadanya aamiin" ucap Ursula sambil mengangkat tangan seperti berdoa.

"Hey! Apa yang kau katakan barusan?" tanyaku kaget, sedangkan ia malah tertawa.

"Makannya, kau harus mau menjadi saksiku!" ucapnya dengan nada yang usil.

"Iya aku mau," timpalku dengan tersenyum. Lebar.

"Kau mau? Yes! Setelah aku mengucapkan syahadat, kau juga harus memgucapkan,'I Love You' padaku!" ucap Ursula lalu lari. Aku hanya mampu tersenyum geleng-geleng.

Hari itu telah tiba. Ursula dengan dibalut kerudung putih bertambah cantik saja waktu itu. Dia mengucapkan syahadat dan aku sebagai saksinya. Setelah sah sebagai seorang muslimah, Ursula berganti nama menjadi Ursula Laila. Dia memang malam penuh bintang.

"Alvi, aku muslimah sekarang!" ucapnya dengan sambil berhamburan hendak memelukku.

"Muslimah tidak boleh memeluk Ursula.." sanggahku lembut. Dia pun tersipu sambil meminta maaf.

Setelah percakapan itu, Ursula pamit duluan kepadaku karena tidak sabar untuk mengatakan kepada kedua orang tuanya dan aku lebih memilih diam sebentar di halaman masjid untuk ngobrol dengan Pak Ustadz.

Setelah itu aku pun pulang ke kosan dan di tengah jalan saat aku mengendarai vespaku, aku melihat Ursula sangat pucat duduk di trotoar sambil memeluk lututnya.

Aku menghampirinya. "Kau kenapa Ursula?"

"Alvi! Aku hampir saja tertabrak tadi oleh truk, makannya aku sangat kaget," jawabnya menatapku.

"Kau tak apa-apa?" tanyaku.

Ursula tak menjawab, ia malah menangis. Lebih aneh lagi, ia memaksaku untuk membuka hoodieku serta melepas headsetku. Ia juga memintakku membuang bukuku. Tak apa. Akan kulakukan apapapun untuk meredakan tangisnya. Dengan segala pertimbangan, ku bawa dia ke kosanku karena aku tidak tau rumahnya dan bingung harus ke mana.

Sungguh, tak ada niat apapun saat Ursula ke kosanku dengan baju yang kotor. Malahan, aku meminta izin terlebih dahulu kepada ibu kosku. Dia pun mengerti dan meminjamkan baju anaknya untuk Ursula.

Ursula tidur sangat nyenyak saat itu. Aku lupa sebagai muslim seharusnya ia sholat isya dahulu sebelum tidur, namun aku tak tega membangunkannya, aku saja yang sholat. Mungkin aku juga sangat lelah, karena kudapati diriku tertidur di atas sajadah.

Paginya Ursula sudah tidak ada di kamarku. Aku mencari Ursula, tetapi kutemukan baju yang dipakainya semalam terlipat rapi di atas kasur. Dia pasti harus buru-buru pulang ke rumahnya.

Hari itu aku sangat tidak enak badan, aku memutuskan untuk tidak pergi ke kampus, dan lebih mengurung diri menonton anime dan bermain game di kamarku.

Malamnya Ursula menengokku, dia meminta maaf tadi pagi tidak memberitahuku untuk pulang shubuh, aku memaafkannya
.
Tiga hari lamanya aku sakit dan setiap malam pula Ursula menengokku.
Kami membicarakan banyak hal tentang masa lalu dan masa depan. Ursula setelah masuk Islam lebih kalem dan anggun.

"Kau masih mempunyai janji, Vi" ucap Ursula saat menengokku di hari ke tiga.

"Apa?" tanyaku. Entah polos entah memang bodoh.

"Kau lupa, yah! Ya sudah aku pergi dahulu!" dia marah dan pergi dari kamarku.

Esok harinya aku mulai ke kampus, pagi itu sangat mendung. Para mahasiswa pun tidak seceria biasanya.

Ku lewati mading kampus dan di sana ada foto Ursula sekilas kulihat, mungkin dia menjadi mahasiswi berprestasi, pikirku. Namun, aku mundur lagi untuk melihat mading karena penasaran, memangnya Ursula berprestasi apa?

Aku diam terpaku di depan mading. Benar-benar merinding. Kau tahu? Mengapa aku selalu memakai hoodie? Mengapa aku selau memakai headset dan membawa buku? Kau tahu apa tulisan di mading itu?

"Turut berduka cita atas meninggalnya Ursula, mahasiswi Fakultas Kedokteran yang meninggal karena kecelakaan," begitu tulisan pada mading itu yang bertanggal tiga hari yang lalu.

Ursula telah membuatku melepaskan hoodie untuk membuatku melihat mereka yang tak terlihat oleh orang kebanyakan.Ursula telah membuatku melepaskan headset, untuk membuatku mendengar suara mereka yang mengangguku. Namun, aku tak menyadari bahwa selama tiga hari ini Ursula adalah bagian dari mereka.

Aku mendatangi kuburannya dan menangis tak percaya Ursula yang kutemui sedang ketakutan tiga hari lalu di trotoar karena hampir saja terlindas truk, memang ia terlindas truk, dan tubuhnya hancur.

Sejak di kuburan Ursula itu aku memakai hoodie dan headset lagi. Hariku akan seperti biasa lagi.

Sesampai di kamar, Ursula sudah ada di sana dengan seorang pria, aku menatapnya dengan sedih, dan dia tersenyum menatapku. Seolah menagih janjiku untuk mengucapakan, 'I Love You,'.

Aku tetap malu mengucapkannya dan itu sudah terlambat karena dia sejatinya sudah tak ada. Yang mengucapkan, 'I Love You,' adalah lelaki yang bersama Ursula. Mungkin, ia Hadi. Ursula tersenyum kepadaku, lalu menghilang dihadapanku, dan aku menatapnya dengan wajah yang sangat mendung.

Sejak saat itu aku mulai mengurung diri kembali, aku memakai hoodie lagi karena tak mau melihat Ursula.

Enam bulan lamanya aku mengumpulkan keberanian kembali untuk membuka hoodie, aku rindu Ursula. Kutatap mereka semua yang tak enak dipandang demi mencari Ursula diantara mereka. Kubuka headset yang membuatku mendengar mereka yang tak enak didengar, demi mendengar suara Ursula. Apapun, sekali lagi apapun akan kulakukan untuk membayar sesal ini. Sebuah kalimat yang tercekat di dada dan belum pernah sempat ku sarangkan tepat dadanya.

"Ursula, ayo ganggu aku! Aku rindu!," sesal hatiku.

Namun, hingga detik ini, aku tidak pernah melihat dan mendengar Ursula kembali. Hingga aku pun tersadar, bahwa mungkin aku harus belajar dari Ursula. Belajar meniru senyum tegarnya saat dia harus kehilangan Hadi. Aku tak bisa terus-terusan terombang-ambing seperti ini.

Kini, kuputuskan untuk berhenti mencoba mengatakan ‘I love you’ padanya. Iya, berhenti. Aku harus lebih dari itu. Cinta bukan hanya sekedar mengatakan I love you kan? Aku akan membuktikan segenap cintaku padanya dengan doa-doa malam spesialku untuknya. Akhir kata, semoga dia bahagia di sana. Amiin.





*****


Oleh Euros Cum

IG : @ntinezia_28

Comments

Popular Posts