Kerling Matamu Harus Tertuntaskan - Chapter 2




"Assalamualaikum wa rahmatullah, Assalamualaikum wa rahmatullah. Allahu Akbar," ucap Laras.

"Heh, Laras, Laras. Sampai kapan kamu mau sholat? Ayo layani suamimu!" ucap Salman yang sedang duduk di atas kasur.

Laras sesampai di rumah megah  Salman terus mendirikan sholat, tak berhenti sejenak pun. Setelah ia selesai menunaikan dua rakaat, maka ia akan langsung berdiri untuk melakukan shalat dua rakaat kembali.

Hari itu sudah malam. Tetesan air mata Laras tak pernah padam. Ia tak tahu cara apa lagi untuk menghindari  Salman selain terus melakukan shalat.

Entah sampai kapan pula Laras akan terus sholat acap kali Salman berada di rumah. Dalam benak Laras, hanya satu, buktikan bahwa dia tidak sedang mengandung, ia tak pernah dinodai oleh siapa pun.

Di sisi lain hati Laras selalu mengingat kerling mata itu, kerling mata yang selalu terlintas di tiap rindunya. Ia yang tak menyadari bahwa Laras menyimpan namanya di setiap sujud akhir shalat mana pun.

Laras mencinta seseorang pemilik kerling seperti halnya Siti Fatimah kepada Sayiidina Ali, menyembunyikan semua perasaan yang ia pendam dalam dekapan rahasia Ilahi. Sehingga tak ada satu pun yang menyadari asa Laras.

Dalam pikirnya, pupus sudah harapan Laras akan pendidikan yang ia perjuangkan dan akan Si Pemilik Mata Kerling itu.

Bagaimana tidak? Resepsi pernikahan Laras diumumkan seantero kotanya, bahkan sudah menjadi berita nasional.

Ahmad Salman,  seorang walikota muda menikah dengan Laras Syawila yang mendapatkan IP tertinggi di negaranya.

Semua itu menjadi tekanan bagi Laras dan keluarganya. Alih-alih ada yang menyayangkan seorang pelajar berprestasi lebih memilih menikah muda, ada juga yang merasa kagum akan sepasang pasutri muda yang dianggap cocok, walikota muda yang dicintai rakyatnya dan wanita berprestasi yang mencintai kerling matanya.

Semua itu terjadi tiga bulan lalu, di saat Laras mengikuti olimpiade Fisika tingkat provinsi mewakili kotanya. Itulah pertama kali Laras bertemu Salman.

Setiap peserta dikarantina selama satu minggu di hotel.

Hati Laras sangat senang bisa bertemu dengan walikota yang sangat terkenal itu, walikota yang selama sepuluh bulan kepemimpinannya dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas berbagai aspek di kotanya.

Setelah panjang perjuangan Laras, akhirnya membuahkan hasil. Ia memenangkan olimpiade fisika tingkat provinsi. Malam itu semua bertepuk tangan dan berdiri untuk Laras.

"De, Laras?" ucap seorang petugas hotel kepada Laras ketika hendak masuk kamar.

"Iyah, ada apa mas?" jawab Laras.

"Itu, de, disuruh Pak Walikota untuk ke ruang makan, " ucap petugas hotel.

***

Langkah kaki Laras mulai memasuki ruang makan yang luas itu, namun lampunya redup karena hari sudah malam. Di sana, di ujung meja makan bagian luar, duduklah seorang pria yang ia kenal.

" Laras, duduklah," ucap lelaki itu.

Di meja yang ia duduki, sudah ada lilin yang sangat cantik, dan hidangan makan yang mewah.

"Ini hadiah untukmu, karena kamu telah membanggakan kota kita," senyum khas Sang Walikota.

"Terimakasih, Pak," ucap Laras dengan canggung.

Sang Walikota terus menatap Laras, dengan isyarat tangannya dan senyum khasnya Salman memulai makan malam itu.

"Begini Laras, menikahlah denganku. Aku Walikota, kaya, tampan, dan dicintai rakyatnya, " ucap Salman secara spontan, sambil menyodorkan kotak cincin ke arah Laras dengan kasar.

Kemampuan Salman dalam membangun infrastruktur memang sangat mengagumkan, cara dia memimpin pun tak diragukan. Tetapi, dibalik semua itu ada jiwa yang tak bisa diterangkan.

"Apa? Mengapa harus saya, Pak? Dan Bapak terlalu spontan mengatakan itu, " ucap Laras.

"Saya akui, ini terlalu spontan. Kenapa kamu? Karena kamu cantik dan pintar, saya suka. Kamu bisa menjadi pasangan hidup saya yang cocok. Saya akan menguliahkanmu,"

"Maksud Bapak apa?"

"Begini, dua tahun yang akan datang pemilihan gubernur, dan saya berniat untuk mencalonkan diri. Nah, sedangkan 3 tahun lagi itu pemilihan presiden.

Duh, ribet. Gini, Laras, jikalau kinerja saya bagus selama menjadi Walikota, maka ketika saya mencalonkan sebagai Gubernur itu besar kemungkinan saya akan menang. Nah, seluruh negeri akan melihat kinerja saya dan masyarakat akan sendirinya mendorong saya untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

Nah saya butuh seorang wanita cerdas sebagian pasangan saya, cantik juga.
Untuk apa? Agar istri saya ini, saya sekolahkan tinggi dan bisa membantu saya untuk membangun negeri ini. Orang-orang akan lebih simpati kepada saya ketika tahu istri saya adalah kamu. Kita akan menjadi pasangan yang cocok, bukan? " jelas Salman, dengan melebarkan lengannya.

"Pak, saya tidak bisa, maaf," jawab Laras.

"Apa yang tidak bisa Laras? Aku ini tampan, cerdas dan berkarisma. Dan kamu tidak mau menolong membangun negeri ini? Negeri ini butuh orang cerdas seperti kita yang peduli terhadap masyarakat," ucap Salman.

"Pak saya bisa menolong Bapak, tapi tidak menikah dengan Bapak, saya belum kepikiran untuk menikah muda,"

"Tidak! Saya maunya kamu membantu saya sekaligus menjadi isteri saya! Tidak ada keinginan saya yang tidak bisa saya gapai, termasuk kamu! Saya cinta sama kamu, kamu cantik Laras,"  ucap Salman berdiri mendekati Laras.

Laras pun berdiri dan hendak lari.

"Ya Allah, mengapa jadi begini? Di mana para petugas hotel? Aku takut Ya Allah, " ucap hati Laras.

"Kalau kamu tidak mau, aku akan membuat kamu mau Laras," ucap Salman.

Salman pun memegang tangan Laras dengan mata yang sangat menakutkan, seolah mata itu berkata, "Laras malam ini kamu milikku!,"

"Kalau kamu menjerit dan menurunkan citra saya, keluargamu akan menjadi imbasnya. Ayahmu sedang di rumah sakit, bukan?" ancam Salman.

"Ya Allah apa yang harus saya lakukan?" ucap hati Laras dengan air mata yang mulai menetes.

Wajah Salman semakin dekat dengan wajah Laras yang terus menjauh, dan bray! Lampu ruang makan itu tiba-tiba menyala terang, Salman langsung berdiri tegap, dan wajahnya seperti biasa berkarisma kembali.

Adalah Tiara sahabat Laras yang berdiri di pintu masuk.

"Hai, anak muda, " ucap Salman kepada Tiara.

"Kalau kamu mengatakan hal yang tidak-tidak aku bisa saja menelepon pihak rumah sakit itu menghentikan detak jantung Ayahmu, Kakakku dokternya!" bisik Salman kepada Laras.



***



Oleh Euros Cum
Kritik dan Saran bisa langsung komen atau DM saya di Instagram @ntinezia_28
Ditunggu Chapter 3 nya yah ^_^





Comments

Popular Posts