Kerling Matamu Harus Tertuntaskan
Chapter 1
Siang itu, udara yang penuh debu dengan suhu kota yang semakin memanas, hilir kendaraan-kendaraan, beroda dua, tiga, empat bahkan delapan tak asing lagi. Bising mesin mereka tak terdengar.
Suhu kota yang sedang kemarau-kemaraunya, tak mengganggu. Atau debu yang merengek pilu di pipi manisnya, tak terasa.
Jalan pulang itu seperti taman bunga.
Adalah Laras Syawila yang sedang berlari di bawah terik matahari dengan kerudung putihnya, rok abu yang panjang itu mengeluarkan suara khasnya karena ia berlari sekencang-kencangnya.
Setiap keringatnya adalah kebahagiaan dengan sebuah map di tangan kanannya yang ia pegang erat. Dalam lubuk hatinya semua kebahagiaan itu tak terlisankan, tak tersurat, dan tak bisa dibayangkan.
Dua jam lalu, Laras Syawila dinobatkan sebagai murid dengan nem tertinggi di kotanya, "34,7" adalah nilai hasil ujian yang telah ia gapai.
Cita-citanya kuliah di Universitas paling elite di kotanya, bahkan di negerinya telah di depan mata. Ia bisa masuk tanpa test lewat jalur prestasi.
Atau kuliah ke luar negeri seperti Jepang atau Mesir bisa terlaksana.
Dalam jeritan hatinya, "Ayah, Ibu aku membawa kabar gembira,". Apalagi untuk Ayahnya yang baru saja keluar rumah sakit karena penyakit jantung, pasti akan sangat bahagia melihat anak tunggalnya hari ini.
Laras pun memasuki gang rumahnya. Langkah yang tadinya begitu cepat, melambat bahkan berhenti sepersekian detik.
Di rumah itu, rumah yang telah ia tinggali 18 tahun lamanya, terlihat ramai. Hatinya bergejolak, firasat buruk menghantui jiwa yang bahagia itu. Suaranya nyaring, "Ayah!,".
Memasuki halaman rumahnya, alhamdulillah ternyata Sang Ayah lah yang pertama ia lihat, tapi ada apa dengan keramaian ini?
"Ayah tau tidak? Laras mendapat peringkat pertama se-kota, Laras bisa masuk ke universitas mana saja!", ucapnya dengan bahagia.
Sedangkan wajah Sang Ayah memancarkan raut kemarahan dan kesedihan. Laras pun melihat semua itu bingung, ada apa sebenarnya?
"Kamu tidak akan kuliah, nak. Kamu baru saja dinikahi, kamu akan menjadi seorang istri dan ibu," ucap Ibu Laras yang baru saja ke luar rumah.
"Apa? Dengan siapa, Bu? Tapi kenapa?"
"Ini semua salah kamu! Apa kurang kami sebagai orang tua mendidikmu, Allaahu Akbar," jawab Sang Ayah sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Laras masih berdiri kaku, mulutnya bisu, sedangkan matanya mulai basah dengan air mata.
Pikirannya melana jauh menerka-nerka, ada apa sebenarnya?
Hatinya ingin menjerit tak menerima, menikah muda? Tak pernah tersirat di cakrawala impiannya.
"Cepat kemasi semua pakaian dan barangmu, pergi bersama suamimu!" teriak Sang Ayah yang tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya, Ayah yang selalu lembut dan ceria di harapannya, ayah yang selalu menjadi tujuan sosok hidupnya.
"Allah Kariim, Ayah. Suami siapa? Laras tak mengerti, " derai air mata Laras mulai menumpahkan sesaknya.
"Sudah, nak, sudah. Kami telah mengetahui semuanya, ibu dan ayah mencoba menerima, kejadian semua ini yang telah kamu lakukan juga kesalahan ibu dan ayah," ucap Sang Ibu memeluk laras yang masih berdiri kaku tak mengerti apa-apa.
Ayahnya menyodorkan selembar kertas dari rumah sakit, surat kehamilan. Atas nama Laras Syawila positif hamil, cek tersebut dikeluarkan hari ini.
Hatinya bergetar, air matanya tumpah, badannya tak kuat lagi menopang semua apa yang terjadi.
Masih memegang kertas itu, keluarlah sosok yang ia kenal, yang ia hindari, Pak Salman namanya, 10 tahun lebih tua darinya, sosok tersohor di kotanya.
Dan Laras langsung mengerti apa yang terjadi. Ia pun berlutut di kaki Sang Ayah.
"Sumpah demi Allah, Ayah, Demi Allah. Laras tidak pernah melakukan hal itu, ini semua bohong, Ayah. Ayah sangat kenal Laras, " dengan air mata yang tak henti-hentinya.
Hati Ayahnya pun luluh, dan memeluk anak kesayangannya.
"Ayah pun tak percaya, Ras. Tapi semua telah terbukti, mungkin sakit kamu beberapa hari kebelakang, karena kamu memang sedang ngidam," Sang Ayah pun ikut menangis, raut wajah kemarahan itu berubah menjadi raut kemalangan.
Sang Ibu terus menangis, tak percaya apa yang telah putrinya lakukan.
"Laras tidak pernah melakukannya, Bu, tidak! Ini fitnah! " ucap Laras.
" Ayo, Nak, kemasi barang-barangmu, Kami tidak marah, kamu tetap anak Kami yang selalu dibanggakan. Jadilah istri yang baik, kami sudah bangga atas itu, " ucap Ibunya berusaha tegar.
Sedangkan Laras, tak kuasa menanggung fitnah yang sedemikian besar ini, ia masih memeluk Sang Ayah, enggan melepaskannya.
Menikah muda? Bagaimana dengan kuliahnya?
Berzina? Sesuatu hal yang tak pernah tersirat dipikirannya, di lubuk hatinya.
Hari ini kebahagiaan yang dua jam lalu ia rasakan, sirna seketika. Map yang tadi ia pegang erat untuk ditunjukkan kepada kedua orangtuanya, tak bermakna.
Selamat tinggal universitas kebanggaan negeri yang ia impikan, selamat tinggal Jepang dan Mesir, selamat tinggal.
Sekali lagi, Selamat Tinggal Ia yang selalu tersemayam di lubuk hati Laras, ia yang kerling matanya menusuk sanubari, setiap sel dalam jiwanya. Selamat Tinggal.
Oleh Euros Cum.
Ditunggu yah Chapter selanjutnya 😇😇😇
Siang itu, udara yang penuh debu dengan suhu kota yang semakin memanas, hilir kendaraan-kendaraan, beroda dua, tiga, empat bahkan delapan tak asing lagi. Bising mesin mereka tak terdengar.
Suhu kota yang sedang kemarau-kemaraunya, tak mengganggu. Atau debu yang merengek pilu di pipi manisnya, tak terasa.
Jalan pulang itu seperti taman bunga.
Adalah Laras Syawila yang sedang berlari di bawah terik matahari dengan kerudung putihnya, rok abu yang panjang itu mengeluarkan suara khasnya karena ia berlari sekencang-kencangnya.
Setiap keringatnya adalah kebahagiaan dengan sebuah map di tangan kanannya yang ia pegang erat. Dalam lubuk hatinya semua kebahagiaan itu tak terlisankan, tak tersurat, dan tak bisa dibayangkan.
Dua jam lalu, Laras Syawila dinobatkan sebagai murid dengan nem tertinggi di kotanya, "34,7" adalah nilai hasil ujian yang telah ia gapai.
Cita-citanya kuliah di Universitas paling elite di kotanya, bahkan di negerinya telah di depan mata. Ia bisa masuk tanpa test lewat jalur prestasi.
Atau kuliah ke luar negeri seperti Jepang atau Mesir bisa terlaksana.
Dalam jeritan hatinya, "Ayah, Ibu aku membawa kabar gembira,". Apalagi untuk Ayahnya yang baru saja keluar rumah sakit karena penyakit jantung, pasti akan sangat bahagia melihat anak tunggalnya hari ini.
Laras pun memasuki gang rumahnya. Langkah yang tadinya begitu cepat, melambat bahkan berhenti sepersekian detik.
Di rumah itu, rumah yang telah ia tinggali 18 tahun lamanya, terlihat ramai. Hatinya bergejolak, firasat buruk menghantui jiwa yang bahagia itu. Suaranya nyaring, "Ayah!,".
Memasuki halaman rumahnya, alhamdulillah ternyata Sang Ayah lah yang pertama ia lihat, tapi ada apa dengan keramaian ini?
"Ayah tau tidak? Laras mendapat peringkat pertama se-kota, Laras bisa masuk ke universitas mana saja!", ucapnya dengan bahagia.
Sedangkan wajah Sang Ayah memancarkan raut kemarahan dan kesedihan. Laras pun melihat semua itu bingung, ada apa sebenarnya?
"Kamu tidak akan kuliah, nak. Kamu baru saja dinikahi, kamu akan menjadi seorang istri dan ibu," ucap Ibu Laras yang baru saja ke luar rumah.
"Apa? Dengan siapa, Bu? Tapi kenapa?"
"Ini semua salah kamu! Apa kurang kami sebagai orang tua mendidikmu, Allaahu Akbar," jawab Sang Ayah sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Laras masih berdiri kaku, mulutnya bisu, sedangkan matanya mulai basah dengan air mata.
Pikirannya melana jauh menerka-nerka, ada apa sebenarnya?
Hatinya ingin menjerit tak menerima, menikah muda? Tak pernah tersirat di cakrawala impiannya.
"Cepat kemasi semua pakaian dan barangmu, pergi bersama suamimu!" teriak Sang Ayah yang tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya, Ayah yang selalu lembut dan ceria di harapannya, ayah yang selalu menjadi tujuan sosok hidupnya.
"Allah Kariim, Ayah. Suami siapa? Laras tak mengerti, " derai air mata Laras mulai menumpahkan sesaknya.
"Sudah, nak, sudah. Kami telah mengetahui semuanya, ibu dan ayah mencoba menerima, kejadian semua ini yang telah kamu lakukan juga kesalahan ibu dan ayah," ucap Sang Ibu memeluk laras yang masih berdiri kaku tak mengerti apa-apa.
Ayahnya menyodorkan selembar kertas dari rumah sakit, surat kehamilan. Atas nama Laras Syawila positif hamil, cek tersebut dikeluarkan hari ini.
Hatinya bergetar, air matanya tumpah, badannya tak kuat lagi menopang semua apa yang terjadi.
Masih memegang kertas itu, keluarlah sosok yang ia kenal, yang ia hindari, Pak Salman namanya, 10 tahun lebih tua darinya, sosok tersohor di kotanya.
Dan Laras langsung mengerti apa yang terjadi. Ia pun berlutut di kaki Sang Ayah.
"Sumpah demi Allah, Ayah, Demi Allah. Laras tidak pernah melakukan hal itu, ini semua bohong, Ayah. Ayah sangat kenal Laras, " dengan air mata yang tak henti-hentinya.
Hati Ayahnya pun luluh, dan memeluk anak kesayangannya.
"Ayah pun tak percaya, Ras. Tapi semua telah terbukti, mungkin sakit kamu beberapa hari kebelakang, karena kamu memang sedang ngidam," Sang Ayah pun ikut menangis, raut wajah kemarahan itu berubah menjadi raut kemalangan.
Sang Ibu terus menangis, tak percaya apa yang telah putrinya lakukan.
"Laras tidak pernah melakukannya, Bu, tidak! Ini fitnah! " ucap Laras.
" Ayo, Nak, kemasi barang-barangmu, Kami tidak marah, kamu tetap anak Kami yang selalu dibanggakan. Jadilah istri yang baik, kami sudah bangga atas itu, " ucap Ibunya berusaha tegar.
Sedangkan Laras, tak kuasa menanggung fitnah yang sedemikian besar ini, ia masih memeluk Sang Ayah, enggan melepaskannya.
Menikah muda? Bagaimana dengan kuliahnya?
Berzina? Sesuatu hal yang tak pernah tersirat dipikirannya, di lubuk hatinya.
Hari ini kebahagiaan yang dua jam lalu ia rasakan, sirna seketika. Map yang tadi ia pegang erat untuk ditunjukkan kepada kedua orangtuanya, tak bermakna.
Selamat tinggal universitas kebanggaan negeri yang ia impikan, selamat tinggal Jepang dan Mesir, selamat tinggal.
Sekali lagi, Selamat Tinggal Ia yang selalu tersemayam di lubuk hati Laras, ia yang kerling matanya menusuk sanubari, setiap sel dalam jiwanya. Selamat Tinggal.
Oleh Euros Cum.
Ditunggu yah Chapter selanjutnya 😇😇😇
Comments